KU
INGAT SENJA DI SORE HARI
Terlihat dua orang
perempuan sedang duduk ditepian pantai yang menghempaskan ombaknya dengan
keras, namun lembut. Suara deburan ombak sungguh menenangkan hati. Ditambah
dengan langit sore berwarna oranye lembut yang menjadi latar belakang.
Dua orang perempuan itu menutup kedua kelopak mata mereka sambil menikmati
semilir angin yang seolah membelai lembut rambut mereka. Seakan waktu terhenti.
Pikiran mereka kosong karena lembutnya angin sore. Angin itu seolah olah telah
menerbangkan semua masalah yang mereka miliki hingga hilang tak berbekas.
Setidaknya, itu yang mereka rasakan sekarang.
Salah satu dari mereka mulai menguap dan membuka kelopak matanya. Dia mengucek
matanya pelan, dan tidak menyadari kalau pergerakannya itu menganggu seseorang
disebelahnya.
“Apa kau mulai mengantuk?” yang ditanya hanya mengangguk pelan sambil terus
menguap.
“Tunggulah. Matahari sebentar lagi terbenam” lagi. Yang ditanya hanya
menganggukkan kepalanya, menuruti apapun yang dikatakan Lulu, kakaknya.
Ya. Dua orang perempuan itu adalah kakak beradik. Sang kakak bernama Lulu yang
sudah menginjak kelas 2 SMA. Wajah Lulu yang pucat tidak menghilangkan kesan
cantiknya. Sedang sang adik yang bernama Beky masih menginjak kelas 2 SMP. Dan
Beky memiliki wajah cantik dan kulit putih susu. Walaupun jarak umur mereka 3
tahun, itu bukan berarti mereka tidak bisa akur. Justru mereka lebih dari akur.
Hobi mereka adalah menunggu senja tiba ditepi pantai sambil melihat matahari
tenggelam. Bagi mereka, itu adalah hal yang menyenangkan. Sangat menyenangkan,
walau Beky sebenarnya sangat sering mengantuk saat menunggu matahari tenggelam
bersama kakaknya. Tapi Lulu tidak memperdulikan hal itu. Karena sebenarnya,
bukan tanpa alasan Lulu mengajak Beky kesini setiap sore.
Lulu ingin memandangi wajah cantik Beky yang paling disukainya, agar dia bisa
benar benar mengingat dengan jelas setiap lekuk wajah cantik Beky yang
mendekati sempurna. Beky adalah orang kedua yang paling dia sayangi dalam
hidupnya setelah kedua orang tuanya.
Kalau boleh
diumpamakan, Beky adalah mutiara hitam baginya.
Jujur saja, selama ini Lulu mengidap penyakit ganas yang selalu dia sembunyikan
dari adiknya, kecuali papa dan mamanya. Dia tidak mau melihat Beky menangis
karenanya. Dia lebih suka melihat wajah tenang adiknya yang menyandar dibahunya
disaat senja.
Kanker otak. Penyakit yang selama ini menemani hari harinya yang indah dan
berwarna, namun penuh penderitaan. Tidak jarang dia menangis saat memandangi
wajah adiknya. Dan dia dengan cepat menghapus air matanya saat dirasa adiknya
terbangun.
“Mataharinya indah
sekali. Aku sangat menyukai moment seperti ini, apalagi saat berdua denganmu
kak” Beky tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya. Lulu yang melihatnya juga
ikut tersenyum.
“Ayo kita kembali.
Mama dan papa pasti sudah menunggu untuk makan malam”
Keesokan harinya …
“Sudahlah papa, tidak
perlu bangunkan Beky. Kasihan dia pasti masih mengantuk. Lagipula ini kan hari
minggu” Lulu tetap bersikeras agar mama dan papanya tidak membangunkan Beky.
Hari ini Lulu
memutuskan untuk pergi ke China hari ini. Mamanya mendapat informasi kalau
metode pengobatan disana sangat manjur. Dan bukan tanpa alasan Lulu tidak mau
membangunkan adiknya. Lulu tidak mau melihat Beky menangis saat ia akan pergi.
Dan dia juga tidak memperdulikan adiknya itu yang pasti akan marah padanya.
Tapi tak apa, asalkan ia bisa sembuh dari penyakitnya itu.
“Baiklah, papa akan
memberi tahu adikmu kalau kau pergi untuk menyelesaikan pendidikanmu di China.
Ayo kita kita berangkat” papa Lulu mencium kening anak sulungnya itu dan
berlalu menggunakan mobil hitam miliknya.
Sudah 1 bulan ini Beky
tidak melihat kakaknya. Dia sangat marah saat tahu kalau kakaknya tidak
membangunkannya. Papanya bilang kalau kakaknya akan melanjutkan sekolahnya di
China dan ditemani mamanya. Yah, walaupun dia marah pada kakaknya, tapi tidak
bisa dipungkiri kalau dia begitu merindukan kakak sulungnya itu.
Dan selama 1 bulan ini
dia selalu duduk di tepi pantai. Berharap agar kakaknya datang dan ikut duduk
disampingnya. Dan Beky sangat menyadari jika hal itu adalah hal yang tak
mungkin terjadi dan tidak seharusnya dia menunggu disini seperti orang bodoh.
Tidak mungkin bukan
kakaknya akan kembali setelah 1 bulan? Setidaknya dia harus menunggu sampai
kakaknya lulus SMA. Dan itu masih 2 tahun lagi.
Matahari sudah
terbenam. Hari berganti malam. Tapi Beky masih terduduk ditepi pantai. Rasanya
enggan meninggalkan tempat yang menjadi kenangan terakhir bersama kakaknya. Dan
disaat seperti ini, dia hanya menangis, berharap rasa rindunya akan lenyap
bersamaan dengan air matanya. Walau dia tahu, menangis tidak akan bisa
membantunya meluapkan rasa rindunya.
“Beky sayang!!”
seorang wanita paruh baya itu berlari sambil menangis, lalu dia memeluk Beky
dengan sangat erat. Beky menoleh ke sumber suara dan terkejut karena ada yang
memeluknya tiba tiba.
“Mama!!! Kapan mama
kembali? Dimana kak Lulu?” Beky membalas pelukan mamanya tidak kalah erat. Tapi
sedetik berikutnya dia langsung melepas pelukan mamanya dan hendak berlari ke
dalam rumah, sebelum tangannya ditahan oleh mamanya.
“Beky, Lulu tidak
sedang berada dirumah” Mama Beky menghapus air matanya dengan sebelah tangannya
yang tidak memegang tangan Beky. Lalu dia mengenggam jemari anak bungsunya itu
dengan erat.
Beky menaikkan sebelah
alisnya. Sungguh, dia tidak mengerti dengan perkataan mamanya. Kalau kakaknya
masih ada China, lalu kenapa mamanya pulang kemari tanpa kakaknya? Beky yakin
kalau mamanya tidak setega itu untuk meninggalkan anaknya sendirian di negara
asing.
“Apa maksud mama?
Dimana kakak Lulu? Mama tidak mungkin meninggalkan kakak di China sendirian
kan?” wajah Beky berubah menjadi merah, dan matanya juga terlihat berwarna
kemerahan. Sungguh, dia memiliki firasat buruk. Tapi dia mati-matian menahan
rasanya itu dan berusaha tidak menangis.
Namun, hanya suara
isak tangis dari mamanya yang membalas pertanyaannya. Firasat buruk itu kini menghantui
pikiran Beky. Dia tidak mau hal buruk menimpa kakak yang paling disayanginya.
Setitik air mata mulai turun mengalir di pipi merah Beky. Dan tetes itu diikuti
oleh tetes tetes berikutnya dan kini wajah Beky benar benar dibanjiri air mata.
Tiba-tiba papa Beky
datang dan membelai puncak rambut Beky dengan lembut. “Sabar ya sayang, papa
tahu kamu sedih. Tapi kamu harus kuat” mama Beky menambahkan, “ayo kita pergi
ke pemakaman” mama Beky menarik tangan Beky dengan lembut menuju mobil hitam
miliknya.
Ada apa ini? Kenapa
semua jadi seperti ini? Sungguh, Beky berharap semua ini hanyalah mimpi. Semua
pikiran buruk itu semakin kuat karena perkataan mama dan papanya. Papanya
bilang dia harus kuat dan sabar? Mamanya bilang mereka akan pergi ke Pemakaman?
Siapa yang meninggal? Semua ini membuat kepalanya pusing.
Beky tak kuasa menahan
tangisnya saat melihat peti mati didepannya. Kini dia ada didepan pusara
kakaknya. Beky terus memandangi wajah cantik kakaknya dari foto diatas peti
itu, lalu mengusapnya perlahan.
“Kenapa kakak tidak
pernah bilang kalau kakak punya penyakit kanker otak? Kenapa kakak harus
menyembunyikannya? Penyesalan selalu datang terlambat. Aku juga salah, tidak
pernah bertanya dan memperhatikan wajah kak Lulu yang selalu terlihat pucat”
Beky masih terus menangis sesenggukan.
“Bisakah waktu
terputar kembali? Aku begitu menyayangimu kak, aku ingin selalu terus
bersamamu. SELAMANYA”
Saat perjalanan menju
pusara tadi, mama dan papa Beky sudah bercerita kalau Lulu pergi China bukan untuk
bersekolah, tapi untuk berobat. Namun, dokter dari China itu bilang, kalau dia
tidak bisa menyembuhkan penyakit Lulu yang sudah stadium akhir. Dan hanya
keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawa Lulu.
Namun Tuhan
berkehendak lain. Tuhan datang menjemput Lulu yang hampir sekarat. Mungkin,
Tuhan sangat menyayangi Lulu yang baik dan sabar. Hingga Dia ingin menempatkan
Lulu disampingnya. Semoga saja memang begitu.
Beky mendongakkan
kepalanya untuk dapat melihat langit lepas didepannya. Langit yang memang sudah
gelap, menambah sinar temaran dihatinya. Beky ingin menangis lagi, tapi dia
tidak bisa. Dia tidak bisa menangis lagi karena membayangkan senyuman kakaknya
diatas langit. Disana, Beky melihat kakaknya tersenyum tulus dan terlihat
begitu bahagia.
“kak, aku tidak akan
pernah melupakan senja disore hari. Dan aku juga tak akan pernah melupakan
pantai dekat rumah kita. Tempat dimana kita menunggu matahari terbenam, dan
saat saat kita menikmati angin sore kala senja tiba. Aku selalu mengingatnya
kak” dan disaat itu juga, bulir air mata mulai membasahi pipi putih Beky.
~SELESAI~

Komentar
Posting Komentar